Awas! Patah Hati Ternyata Bisa Memicu Serangan Jantung,- Bagi setiap pasangan, tidak selamanya hubungan percintaan akan berada dalam fase yang menyenangkan. Setiap kisah cinta juga bisa diwarnai dengan fase patah hati.

Selain dapat memengaruhi segi emosional, patah hati juga bisa berdampak pada fisik, mulai dari mengganggu jadwal tidur hingga menimbulkan seperti gejala sakit jantung.

Gangguan tidur seperti insomnia memang umum terjadi pada mereka yang baru saja mengalami putus cinta. Stres yang timbul akan mmengaruhi proses biologis yang membant tubuh tertidur di malam hari. Menurut psychotherapist asal California dan Coloradi, Ronald A. Alexander, patah hati juga bisa menyebabkan gangguan kecemasan dan meningkatkan detak jantung.

Bahkan, dalam kasus tertentu, patah hati berpotenis memicu gejala mirip serangan jantung, yang dapat menimbulkan kerusakan jangka panjang pada jantung.

Sindrom patah hati (broken heart) atau disebut juga dengan cardiomyopathy disebabkan akibat stres, dan dapat dialami oleh mereka yang ada dalam kondisi sehat sekalipun. Kondisi ini lebih umum dialami oleh wanita daripada pria, ditandai dengan rasa sakit pada dada yang mendadak dan intens karena adanya peningkatan hormon stres.

Cardiomyopathy ini umumnya dipicu oleh pengalaman traumatis, seperti putus dengan pasangan. Dalam kondisi yang parah, otot jantung menjadi lemah dan tidak lagi berfungsi dengan baik.

Jika pada penelitian sebelumnya disebutkan bahwa kerusakan yang terjadi hanya bersifat sementara, namun hal tersebut kini dibantah oleh para ilmuwan di University of Aberdeen. Mereka menemukan fakta bahwa efeknya dapat brsifat permanen, seperti serangan jantung.

Dalam studi yang didanai oleh British Heat Foundation (BHF), tim dokter memeriksa 37 pasien cardiomyopathy selama sekitar 2 tahun dengan menggunakan pemindaian ultrasound dan MRI.

Temuan yang dipersentasikan di American Heart Association Scientific Sessions di California ini mengungkapkan bahwa para partisipan memiliki keruskaan yang tidak dapat diobati pada jaringan otot jantung yang disebabkan karena berkurangnya elastisitas. Kurangnya elastisitas ini membuat jantung tidak berdetak secara maksimal.

Studi lain yang dilakukan oleh Harvard Medical School, menyebutkan bahwa lebih dari 90% pasien kasus cardiomyopathy yang dilaporkan adalah wanita berusia antara 58 dan 75 tahun.

Professor Jemery Pearson, associate medical direktor di BHF menjelaskan bahwa cardiomyopathy merupakan penyakit yang dapat menyerang orang sehat dengan efek merusak. Para peneliti pernah mengira bahwa dampak dari penyakit yang mengancam jiwa ini bersifat sementara, namun sekarang terlihat bahwa efeknya terus memengaruhi orang selama sisa hidup mereka.

Person menambahkan bahwa saat ini tidak ada perawatan jangka panjang untuk pasien patah hati ini karena petugas medis sebelumnya mengira semua penderita akan sembuh total.

Penelitian baru ini menunjukkan adanya efek jangka panjang pada kesehatan jantung, dan menyarankan agar kita merawat pasien dengan cara yang serupa dengan orang yang berisiko mengalami gagal jantung.

Sumber : Kompas.com