Sindrom Brugada Ternyata Bisa Sebabkan Serangan Jantung,- Kasus kematian seorang dokter secara mendadak yang sempat viral beberapa waktu lalu membuat banyak orang bertanya-tanya mengenai penyebab pasti kematiannya. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menduga bahwa penyebab kematian dokter tersebut adalah brugada sindrom, yaitu sebuah gangguan jantung yang berpotensi mengancam nyawa. Sayangnya, meskipun membahayakan, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang sindrom brugada ini.

Sindrom brugada adalah gangguan jantung yang sangat serius dan menyebabkan irama jantung atau detak jantung menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Kondisi ini membuat jantung tidak bisa memompa darah ke seluruh tubuh secara optimal. Jika hal ini terjadi, maka akan berdampak sangat fatal dan bisa mengancam nyawa seseorang.

Jika gangguan irama jantung ini terjadi sesaat, maka orang dengan sindrom brugada mungkin hanya akan pingsan. Namun, jika terjadi cukup lama, maka orang tersebut bisa mengalami henti jantung mendadak dan meninggal.

Kemuculan sindrom brugada ini seringkali tidak menunjukkan gejala. Umumnya penyakit ini baru terdeteksi ketika seseorang melakukan tes elektrokardiogram (EKG). Namun, pada beberapa orang, sindrom ini dapat menunjukkan gejala yang tidak jauh berbeda dengan penyakit jantung lainnya, seperti sesak napas, detak jantung tak beraturan (palpitasi), demam tinggi, kejang, dan pingsan.

Risiko untuk terkena sindrom brugada bisa meningkat karena baberpa faktor. Berikut ini merupakan sejumlah faktor risiko yang bisa memicu timbulnya sindrom brugada, diantaranya :

  • Keturunan. Jika salah satu anggota keluarga memiliki sindrom brugada, maka Anda juga berisiko mengidap penyakit ini.
  • Jenis kelamin. Laki-laki dewasa cenderung lebih berisiko mengalami sindrom brugada dibandingkan dengan wanita.
  • Ras. Sindrom brugada lebih sering terjadi pada orang Asia, termasuk Indonesia dibandingkan dengan ras lainnya.
  • Sering demam. Demam dapat mengiritasi jantung dan merangsang serangan jantung yang dipicu oleh sindrom ini, terutama pada anak-anak.

Karena sindrom ini tidak memiliki gejala, namun dapat berakibat fatal jika terus dibiarkan, maka Anda perlu memperhatikan kondisi jantung Anda. Jika Anda mengalami detak jantung berdebar atau tidak beraturan, pingsan, atau memiliki anggota keluarga yang mengidap sindrom brugada, maka alangkah baiknya jika Anda berkonsultasi dengan dokter untuk mendiskusikan apakah Anda perlu menjalani tes genetik untuk mengetahui apakah Anda berisiko mengidap sindrom brugada atau tidak.

Untuk mendiagnosa sindrom brugada, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik yang disertai dengan beberapa tes, seperti :

  1. Elektrokardiogram (EKG). Tes ini dilakukan untuk merekam aktivitas elektrik di dalam jantung dan memastikan apakah ada kelainan pada detak jantung.
  2. Studi Elektropsikologi (EPS). Jika hasil EKG menunjukkan bahwa pasien positif mengidap sindrom brugada, maka tes EPS ini dilakukan untuk memudahkan dokter dalam mengetahui penyebab dan menentukan tipe pengobatan penyakit ini.
  3. Tes genetika. Dokter akan mengambil sampel darah dan memeriksanya untuk memastikan apakah ada faktor genetika yang menyebabkan sindrom brugada.

Meskipun tidak ada pengobatan yang dapat dipercaya dan benar-benar mencegah terjadinya sindrom ini, namun terdapat upaya yang bisa dilakukan pada penderita sindrom brugada. Pemasangan Implantable Cardioverter-defrilator (ICD) dan terapi obat merupakan beberapa bentuk pengobatan yang bisa dilakukan untuk penderita sindrom brugada. Namun, pemasangan ini pun tidak akan banyak berarti jika gejala tidak terdeteksi.

Baca juga :

Obat Penyakit Jantung Rematik
Cara Mengatasi Jantung Aritmia
Manfaat Omega-3 untuk Cegah Serangan Jantung